Gunung Kelud
Gunung Kelud meletus pada tanggal 13 Februari 2014, bertepatan dengan
saat aku melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Penelitian Tanaman
Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Kota Batu – Jawa Timur selama 1 bulan.
Tidak ada tanda – tanda sebelumnya, namun ketika subuh kala itu, aku
dibangunkan temanku yang juga satu kost denganku dan mengatakan bahwa Gunung
Kelud meletus. Aku berusaha tenang, aku buka handphone ku pun tidak ada
sinyal. Karena posisi kami terpencar, beberapa temanku mengambil tempat PKL di
Kediri – FYI, tempat PKL ditentukan oleh pilihan sendiri dari mahasiswa/i –, (sebulan
sebelumnya aku telah survey ke Balitjestro bersama kakak-kakak angkatanku di
himpunan). Aku baru bisa menghubungi temanku di Kediri setelah agak siang
karena sedari pagi sinyal/komunikasi terhalang, sehingga saat siang hari aku
hubungi mereka, dan ternyata mereka di evakuasi. Orang tua dan keluargaku pun
menanyakan kabarku dan begitu khawatir, karena abu vulkanik dari Gunung Kelud
cukup luas hingga ke Provinsi Jawa Tengah. Beberapa hari sempat mengalami “kegelapan”
sehingga kami khususnya aku yang melakukan penelitian di perkebunan belum dapat
melanjutkan researchku. Meski tiap hari selalu diberi pemandangan indah secara
gratis, bisa menatap indahnya Semeru dan beberapa gunung lain di sekitarnya
dari lantai 2 kost, beberapa kali melihat pelangi di kebun, merasakan dinginnya
Kota Batu tiap malam, tiap hari mandi air hangat, berwisata petik tanaman,
wisata ke BNS dan Jatim Park, ah seru !!
source : merdeka.com
Btw, aku mengambil topik “penyakit dan cara penanggulangannya pada
tanaman anggur”, dan salah satu penyakitnya adalah embun tepung. Embun tepung
tersebut berarna putih yang menempel di daun – daun tanaman anggur. Beberapa
hari sebelum terjadi letusan, aku membuat beberapa “ramuan” atas hasil
konsultasi dengan pembimbingku di kampus dan di Balitjestro. So, you can
imagine guys after that? semua tanaman anggur yang ku teliti di kebun
seluas itu terkena abu vulkanik, dan aku tidak bisa membedakan mana yang embun
tepung dan mana yang abu vulkanik wkwkkw.. But, so far, I say thanks to God,
on saving me well until back home and back to university, I’ll remember all the
kindness of my family in Batu City, Kediri, Probolinggo, Malang, all
Balitjestro’s staff. SEMOGA SUATU SAAT
KITA BISA BERTEMU KEMBALI. SEMUA SANGAT BERKESAN.
Gunung Slamet
Belum ada 1 tahun dari kepulanganku dari Kota Batu, dan masih teringat
peristiwa Gunung Kelud meletus, pada bulan Agustus – September 2014 aku
melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama teman – teman se universitas yang
diacak random (aku punya banyak teman baru hehehe) dan finally aku dapat tempat
KKN di Desa Sikapat, desa yang terletak di bawah kaki Gunung Slamet. Hari demi
hari dilalui begitu asik karena banyak teman baru yang berbagai macam
karakternya, dengan ibu kost yang sangat baik, dengan warga sekitar yang begitu
sederhana dalam menjalani hari – harinya untuk bertumpu pada alam. Jadi
uniknya, hampir seluruh mayarakat di Desa Sikapat berprofesi sebagai penderes.
You know what ? Penderes itu adalah orang yang mengambil nira dari pohon
kelapa untuk dijadikan gula merah. Nah !! That’s why we there. Apalagi
aku dari pertanian, maka diberikan tugas khusus lah oleh dosen pembimbing KKN,
untuk meneliti gula kelapa tersebut, dan menghimbau serta mengedukasi warga
untuk tidak menggunakan obat kimia pada nira yang telah diambil. Ada keunikan
disini, syarat untuk dapat menikahi anak orang adalah jika laki – laki tersebut
sudah bisa memanjat pohon kelapa dan bisa menderes kelapa !, OMG, pantas saja
beberapa kali aku discuss dengan para penderes kok masih muda – muda.
Hmm.. Tapi yang sudah menjadi adat, biarlah mengalir begitu adanya. Aku fokus
pada penelitian gula dari para penderes. Ohya, KKN ku sempat dijeda karena KKN
dilaksanakan pada bulan puasa, dijeda lebaran kemudian setelah lebaran lanjut
KKN kembali, sehingga setiap hari merasakan buka puasa dan sahur bersama teman
– teman KKN dan warga Desa Sikapat.
source : merdeka.com
Hari demi hari terlewati, aku fokus dengan
ikut para penderes berangkat kerja, belajar naik pohon kelapa, wkwk.. dan terus
menerus edukasi dari rumah satu ke rumah lainnya untuk mengecek dan memastikan
bahwa para penderes sudah berhenti menggunakan bahan kimia dalam campuran nira,
dan menggantinya dengan bahan alami. Sebenarnya kami tahu bahwa status Gunung
Slamet saat itu sudah di level waspada, dan plang “JALUR EVAKUASI” pun sudah
ditancapkan pada sepanjang jalan bahwa menjadi proker dari teman – teman yang
KKN dari desa lain yang berfokus pada geologi/kebumian. Selain proker yang
fokus pada gula, kami juga fokus pada pembuatan tungku. Saat uji coba tungku,
beberapa kali mengalami dentuman dan tungkunya pun bergejolak, namun hal yang
ku ingat sampai saat ini adalah ucapan beberapa warga saat kami panik, mereka
mengatakan “sing tenang mas mba, ndakpapa, sudah terbiasa begini....banyakin
doa, Slamet lagi batuk”. Aku berusaha meresapi dan merasakan ketenangan
yang disalurkan oleh masyarakat Desa Sikapat, walaupun kami juga sudah siap
jika di evakuasi. Tapi KKN terus lanjut hingga akhirnya kami EXPO di Alun –
Alun Banyumas dengan mempromosikan produk kami dan masyarakat Desa Sikapat
dengan nama produk “GULA KRISTAL SIKAPAT”, ah begitu mengesankan, hingga
akhirnya kami tiba pada hari perpisahan. Finally, I hate the farewell !
Mengapa setiap pertemuan pasti harus ada perpisahan, tapi begitulah hukum alam.
I say thanks so much untuk semua kenangan yang tak terlupakan, keakraban,
kekeluargaan, dan tetap sama dengan saat di Kota Batu, SEMOGA SUATU SAAT KITA
BISA BERTEMU KEMBALI, TEMAN – TEMAN KKN DESA SIKAPAT DAN MASYARAKAT DESA
SIKAPAT, LOVE YOU ALL.
Gunung Agung
Pada tahun 2017, Gunung Agung – Bali mengalami erupsi. Kepulanganku dari
Pulau Sailus, aku kembali lagi ke Lombok beberapa hari sebelum pulang ke
Jakarta dan Tegal. Malam sebelum pulang sebenarnya masih ragu, lanjut sehari
lagi di Lombok, atau langsung pulang. Akupun ragu, ambil rute penerbangan
Lombok – Jakarta, atau Lombok – Surabaya, karena kebetulan aku diajak mampir ke
Surabaya oleh teman – temanku area Jawa Timur. Padahal Kak Ayu Silvi sudah
menunggu di Jakarta, namun memang sebenarnya jadwal kepulangan dari Pulau
sempat mengalami perpanjangan karena jadwal kedatangan kapal yang menjemput
kami terlambat datang beberapa hari. Saat kami di pulau, tidak ada sinyal,
tidak ada listrik, jadi saat terlambat pulang pun kami tidak bisa menghubungi
siapapun diluar kehidupan kami di Pulau Sailus. Hehe.. I’m sorry kak, karena
telat pulang L Akhirnya daripada balik Jakarta sendirian,
hmmm.. yasudah aku putuskan ambil rute Lombok – Surabaya. Because, temanku,
Azizah, juga di Pulau Sailus, berangkat bersamaku namun dia di Pulau Sailus
Besar, sedangkan aku di Pulau Sailus Kecil, sementara sebelum berpisah di Pulau
waktu itu, Azizah sempat menyampaikan bahwa sepertinya dia bakal balik lebih
dulu karena dia sedang studi lanjut S2 dan dia harus berangkat ke Bogor untuk
bimbingan/kuliah. Yah bener deh, saat aku masih di Kapal perjalanan pulang dari
Pulau ke Lombok, dan sempat dapat sinyal walau naik turun, masuklah SMS dari
Azizah kalau dia sudah safe di Jakarta, hwaaa kangen ! Finally ku bisa menyapa
duniaaaaa setelah sekian lama tenggelam di pulau tanpa kabar apapun.
source: suarapubliknews.net
Yhaaa,
back to the topic, hingga akhirnya sampai di Bandara LOP dan you know what
happen ? ya delay because of Mountain Agung was eruption. Aku langsung keinget
film ILY From 3000 Mdpl, mana momennya sama kan di Lombok. But, finally,
alhamdulillah Allah masih terus melindungi hingga kami sampai di Bandara Juanda
dengan selamat. Dan sampai detik ini, semua pengalaman dan kisah di Pulau
Sailus sangat berkesan, dengan seluruh teman – teman dari berbagai macam
provinsi, hidup tinggal satu rumah, cari ikan di pantai, tiap sore lihat senja,
bercengkrama dengan kesederhanaan, dan keluarga di Pulau Sailus. Ya Allah, I
miss them all so much ! PENGIN KETEMU LAGI !
foto saat senja di kapal ENTEBE EXPRESS
Suatu kisah di suatu
negeri
Dimana jiwa raga kau
abdi
Perjuangan di titik
nadir yang hampir mati
Tanpa pamrih, kau
tawarkan diri
Menoreh ilmu pada
mereka yang kau didik
Di tapal batas kau
berdiri
Kau kayuh sepedamu yang
kian menjerit seru
Tak pernah kau hitung
Tetes keringat yang
mengucur
Dari tangan dinginmu
Dan wajah senjamu
Tuk negeri yang
membesarkanmu
Terkadang kau terbatuk
– batuk
Melawan kepul asap yang
tak permisi
Demi anak didikmu
Separuh hidupmu telah
kau korbankan
Melawan kebodohan
Tuk jadi panutan menuju
kesuksesan
Pada wajah senjamu yang
kian layu
Senyum dan prestasi
anak didikmu
Adalah kado bagimu
Kebahagiaan ?
Ah, rasanya tak perlu lagi ragu, katamu.
Pada suatu rongga
kehidupan
Ia menjelma pada tubuh
Yang rapuh tertindas
jaman
Hingga pada suatu masa
Di sebuah noktah, ia
menengadah
Dan sekejap sang surya
Menembus tirai jendela
Menyinari tubuh yang
tergeletak
Dikawal oleh kesunyian
Dan diteduhi oleh sayap
– sayap kematian
Nyanyian lirih sang
pendeta
Teramini oleh burung –
burung penyelimut kematian
Bunga nisan telah layu
berguguran
Pun musim panas telah
berlalu
Angin kesedihan menukik
tajam
Meratapi gundukan tanah
Beraroma kembang nan
basah
Kurebahkan diriku
diatas tanah
Yang masih merah
merekah
Dan terkulai bersama
air mata
Yang membasahi bumi
Aku diakali
Dalam tempurung
Yang berombak di laut
mati
Aku melangkah
Dibawah temaram sinar
bulan
Sekelebat sayap – sayap
rintihan manusia kota
Yang malu – malu
sembunyi dari malam dan jalan
Ah, rasanya ku tersesat
Dalam sepi yang berliku
Langit begitu angkuh
Tiada tangga kesana
Selain mimpi dan doa –
doa
Yang terkumpul di tiap
malam
Ku mencarimu dalam
mimpiku
Tapi, kau justru lebih
terlihat dariku
Ku cari kau pada angin
Namun hanya desah desir
ombak
Yang memecah gardu
pandang
Ku tinggalkanmu bersama
rasa sakit
Yang hanya aku seorang
yang tahu,
Yah, hanyalah aku
seorang yang tahu
Ekspedisi
Nusantara Jaya (ENJ), merupakan kegiatan yang dicanangkan oleh Kementerian Koordinasi
Bidang Kemaritiman Republik Indonesia yang diikuti oleh para pemuda dan
mahasiswa setelah diseleksi untuk
ditempatkan di garis luar kepulauan di Indonesia. Tujuan kegiatan ini adalah
untuk memajukan dan mengembangkan masyarakat di wilayah pesisir Indonesia
dengan dukungan penuh sesuai dengan visi presiden yaitu mewujudkan Indonesia
sebagai poros maritim dunia. Ialah Fildzah Kharisma NH (23 tahun), menjadi
satu-satunya anak muda dari Tegal yang terpilih melalui seleksi dan menjadi
bagian dari tim Ekspedisi Nusantara Jaya. Ia bersama 19 rekannya yang terpilih dari
berbagai daerah di Indonesia mengambil lokasi pengabdian di Pulau Sailus Kecil,
Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep),
Provinsi Sulawesi Selatan.
Perjalanan
menuju Pulau Sailus Kecil membutuhkan waktu yang cukup lama. Proses
pemberangkatan tim Ekspedisi Nusantara Jaya koridor NTB dimulai dari Meet Point
Mataram pada tanggal 17 September 2017 hingga menuju ke Pelabuhan Bima untuk
melakukan upacara pelepasan oleh perwakilan pemerintah setempat di NTB.
Perjalanan dimulai menggunakan Kapal Perintis ENTEBE EXPRESS yang membutuhkan
waktu sekitar 17 jam untuk dapat sampai di Pulau Sailus Besar. Perjalanan
diakhiri dengan menggunakan kapal nelayan dari Pulau Sailus Besar menuju Pulau
Sailus Kecil yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Tim ENJ sampai di Pulau
Sailus Kecil pada tanggal 19 September 2017. Secara administratif, Pulau Sailus
Kecil termasuk bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan, namun secara geografis,
Pulau Sailus Kecil lebih dekat jika berlayar dari Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pengabdian
yang berlangsung selama 10 hari ini berlandaskan pada 4 divisi, yaitu divisi
kesehatan, divisi lingkungan, divisi pendidikan dan divisi ekonomi kreatif.
Fildzah, selaku koordinator dari divisi ekonomi kreatif memaparkan kondisi
masyarakat di Pulau Sailus Kecil yang masih jauh dari sentuhan teknologi dan
modernisasi. Pulau Sailus Kecil, hanya memiliki satu desa, yaitu Desa Poleonro,
yang terdiri dari 8 Rukun Tetangga dan memiliki sekitar 1200 jiwa. Garis
perekonomian masyarakat Desa Poleonro hanya berpangku pada profesi sebagai
nelayan. Pulau Sailus Kecil sendiri
dihuni oleh beberapa macam suku, yaitu Suku Mandar, Suku Bajau dan Suku Madura.
Suku asli dari Pulau Sailus Kecil sendiri yaitu Suku Mandar, selebihnya adalah
pendatang yang pada akhirnya menetap di Pulau Sailus Kecil. Karena minimnya
tenaga pendidik dan fasilitas yang kurang memadai, Desa Poleonro hanya memiliki
satu Sekolah Dasar, yaitu SD 16 Sailus Kecil dengan jumlah sekitar 150 siswa
dan satu Sekolah Menengah Pertama Satu Atap yang berjumlah 46 siswa. Tenaga
pendidik SMP hanya berjumlah 4 orang beserta Kepala Sekolah. Menurut Ibu
Fatimah, sebagai salah satu guru di SD 16 Pulau Sailus Kecil, masih adanya
keterbatasan siswa – siswi dalam memahami bahasa Indonesia. Jika ingin
melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, mereka harus menyekolahkan anaknya ke pulau
tetangga yaitu Sailus Besar ataupun ke Makassar.
Dilirik
dari sisi perekonomian, untuk sekedar menjajakan hasil buminya maupun belanja
kebutuhan hariannya, mereka harus menunggu kedatangan kapal perintis yang
jadwalnya sekitar 8 hari sekali. Biasanya mereka menjualnya ke pasar di Sumbawa
ataupun Bima. Bapak Irwan, selaku Kepala Desa Poleonro mengatakan bahwa
masyarakat Desa Poleonro masih minim pengetahuan dan informasi terkait
pengolahan sumber daya alamnya. Sehingga, mereka hanya dapat menjual mentah
hasil buminya seperti ikan, kacang hijau dan kelapa. Desa Poleonro pun tidak
memiliki tenaga ahli kesehatan, dan hanya mengandalkan dukun bayi. Adapun
perawat atau tenaga kesehatan lainnya, hanya sesekali datang karena harus
singgah dari pulau ke pulau. Selain itu, pulau yang masih sangat asri ini masih
belum terjangkau sinyal telefon maupun internet. Dalam memenuhi kebutuhan
listrik hariannya, masyarakat Desa Poleonro mengandalkan panel surya yang hanya
dapat menerangi Desa Poleonro pukul 7 hingga 12 malam. Ketersediaan air bersih dan air tawar pun
masih sangat minim, karena dalam memenuhi dan melakukan aktifitas hariannya,
air tawar hanya digunakan untuk minum dan memasak saja, pun dengan jumlah yang
terbatas.
Sulitnya
tim ENJ mengakses informasi tentang Pulau Sailus Kecil tidak menjadikan mereka
berkecil hati untuk terus mengabdi. Namun, siapa sangka keramahan masyarakat
Desa Poleonro membuat tim ENJ mulus dalam menyalurkan beberapa programnya.
Berangkat dari latar belakang anggota yang beraneka macam seperti, pertanian,
kelautan, kedokteran dan ilmu kesehatan, pendidikan, kepariwisataan dan
beberapa konsentrasi studi lainnya, tim ENJ mengemas programnya berupa bhakti
sosial, donasi pakaian layak pakai, pembuatan taman baca dan perpustakaan,
sosialisasi rajin menabung, sosialisasi kewirausahaan, sosialisasi GenRe,
pembedayaan PKK, Cek Kesehatan Gratis, perbaikan lingkungan dan sanitasi, penguatan
perekonomian dan pengolahan sumber daya serta mengeksplore Pulau Sailus Kecil
sebagai daya tarik wisatawan.
Penutupan
program berlangsung secara sederhana dan disambut hangat oleh seluruh warga
masyarakat Desa Poleonro dengan mengadakan tasyakuran. Tim ENJ pun disuguhkan
tarian-tarian adat serta lagu-lagu khas Pulau Sailus Kecil, seperti
Tengga-Tengga Lopi, Dodema, Tola-Tola Menya serta Potong Padi. Acara penutupan
dan perpisahan yang berlangsung khidmat pun sangat diresapi oleh teman-teman
ENJ dan masyarakat Desa Poleonro sebagai rasa syukur dan ucapan terimakasih
atas kedatangan tim ENJ ke Pulau Sailus Kecil. Tim ENJ kembali pulang ke daerah
masing – masing dan lepas dari Pulau Sailus Kecil pada tanggal 29 September
2017 menggunakan Kapal Perintis Papua 2.
Sebagai
tindak lanjut dari pengabdian ini, Fildzah beserta 19 rekannya dari berbagai
daerah di Indonesia yang tergabung dalam satu tim ekspedisi memiliki tekad
untuk terus berjuang bersama membangun negeri sebagai salah satu jembatan
kepada pemerintah. Besar harapan mereka bahwa melalui program ini, dapat
membantu pemerintah agar lebih memperhatikan kondisi masyarakat Indonesia di
perbatasan, khususnya di Pulau Sailus Kecil. Hingga saat ini, donasi masih
terus dilakukan untuk dapat disalurkan ke masyarakat di Pulau Sailus Kecil
seperti pakaian layak pakai, buku-buku bacaan serta obat-obatan.
“Mewujudkan
poros maritim dunia tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan kerja
keras, pengorbanan dan keikhlasan yang tiada akhir. Sekecil kebaikan, selamanya
terkenang. Teruslah semangat untuk membangun negeri, para generasi penerus
bangsa !” Pungkasnya.
Oleh : Fildzah Kharisma N. Haque
Ketika hujan pertama jatuh
Baru satu benih tumbuh
Menggelepar mencari anak sungai
Aku pun tertatih – tatih
Dengan deru diesel memeras keringatku
Tuk benihku yang kerontang
Ketika hujan pertama jatuh
Hanya satu daun bersemi
Menghampiri air mataku
Yang mulai mengering
Menanti dan menanti
Belas kasih sang juragan
Ketika hujan pertama jatuh
Aku tak banyak berharap
Air akan menggenang petak sawahku
Biarkan saja satu benih
Kan tumbuh apa adanya
Walau hanya sehelai dan bersemi
Itupun cukup menghibur
Tuk menyeka air mataku
Yang mulai membasahi capingku
Ketika hujan pertama jatuh
Semua akan kupasrahkan
Tumbuh, bersemi bahkan
Sampai menunai pada hujan
Biarkan hujan akan menghampiri
Disaat irigasi kritis
Biarkan hujan pertama
Menjadi saksi jerit tangis petani
Di sajadah panjang yang tercabik zaman
"Aku masih merasakan udara yang sama.
Masih berdiam ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan
ini bernama tanpamu, Selma...”
Gulungan ombak di 17 Mei 1983 senja itu menjadi saksi pergulatan hati yang sangat hebat, yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Janji pertemuan yang ia tawarkan pekan lalu membawakan diriku padanya dengan sedikit gelisah akan apa yang hendak ia utarakan.
10 Mei pekan lalu Selma mengatakan rencananya
hari ini bertolak ke Manhattan. Pada jalanan yang telanjang ini, kucoba menerka
tentang perkataan Selma pekan lalu dalam himpitan lorong – lorong Kota Varanasi
sore itu, ucap kepergian dari bibirnya dengan tajam merobek telingaku kala itu
dibawah pohon lampu.
“aku menunggumu dari pukul setengah empat
sore, tapi tak kulihat kehadiranmu” katanya.
Bagaimana ku bisa membawa diriku hadir tegap
laksana prajurit nan kokoh di depannya, sementara senja itu harus menjadi saksi
bisu perpisahan aku dan Selma.
“Maafkan aku Selma atas keterlambatanku”,
ucapku lirih padanya.
Darahku mengalir begitu deras, bak tersambit
kapak nan lancip. Tak kuasa mata ini menatapnya tajam untuk yang terakhir
kalinya. Seluruh neuron dalam otakku seakan terbelit dan mengoyak segala alam
fantasiku.
”Kau tahu kan, petang nanti aku harus
bertolak ke Manhattan, kau tahu kan sore ini sengaja ku relakan waktu ku untuk
bersamamu, kau tahu kan kalau orang tuaku.......”
“Cukup, Selma ! Aku tak ingin kau perpanjang
kalimatmu”, bentakku.
Selma sontak terdiam dan lambat laun Selma
menitikkan air yang sudah berat tertampung di matanya.
“Maafkan aku Selma, aku tak bermaksud
membentakmu, tapi arus ayal kepergianmu menghantarkanku pada emosi jiwaku yang kian
memuncak” kataku.
“Aku tahu, tiada satupun yang menginginkan
perpisahan ini terjadi, sungguh berat hati ini harus melepasmu, aku tak kuasa
mencoal jiwaku yang sudah termagneti olehmu, kau pikir ini mudah ?” Kata Selma
mulai memberanikan diri melihat mataku nan menghayut pada sukmaku.
Dengan sedikit terisak, Selma meringkuh
berlutut dan berkata bahwa kepergiannya dari kota ini bukan hanya untuk
meninggalkanku. Orang tuanya hendak menikahkannya pada seorang yang tersohor di
salah satu sudut kota di negeri seberang, Manhattan.
Emosiku meluap seperti plastik terbakar, aromanya
kental menyerbu penciuman.Pijar-pijar bohlam dalam hatiku berlecutan. Aku
menikmati sensasi kesenduan yang teramat dalam. Hatiku sunyi, kendati tak sepi.
Tapi, liris demi liris kalimatnya semakin menyudutkanku.
Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya
berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat
perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan
getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak
bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi.
Perpisahan itu harus terjadi untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan
perasaan bahagia itu lagi.
“Aku harus pergi” ucap Selma kala itu saat senja beringsut malu – malu untuk menutup hari.
“Aku sungguh tidak bisa melepasmu, Selma.”
“Harus menjadi seperti apa jiwa dan hatiku
yang telah robek sepeninggalmu? ” ucapku.
“Tak bisakah sejenak kau nikmati senja esok
hari bersama riuh burung – burung kecil sore yang meramaikan kisah kasih kita
?” Ku ucap padanya dengan bibir sedikit pilu.
“Mengapa tak kau luangkan sejenak saja tuk
izinkan kulukis Maha Karya Tuhan nan begitu indah di wajahmu, Selma ?”
Selma hanya terdiam mematung, sudut bibirnya
nan tipis menyeruak.
Berlatar belakang nyiur kelapa yang sudah
sedikit menua pada beberapa dahannya, kurebahkan diriku diatas gundukan butiran
pasir pantai nan tersapu ombak perlahan.
Selma tak kuasa menampung air matanya yang
tepat jatuh diatas pundakku. Tetesan air yang menembus kulit dan sukmaku begitu
hebat menghipnotisku untuk melepaskannya.
“Aku pun tak ingin pergi dari pelukmu, tapi
aku tak miliki daya apapun, maafkan aku” isak Selma dengan detak jantung yang
dapat kurasa pada lapisan ariku.
Jangan menangis kekasihku, janganlah menangis
dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta ,hanya cinta yang
indah kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan,pahitnya kesedihan,dan
duka perpisahan.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
seperti kata yang tak sempat dikatakan kayu kepada api yang menjadikannya abu,
aku ingin mencintaimu dengan sederhana,seperti isyarat yang dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikanya tiada.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana,seperti isyarat yang dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikanya tiada.
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau
dalam kehidupan ini,pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang
akan datang.
“Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku.
Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kau berpegang pada prinsipmu, aku
berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan
beriringan, tak apa Selma”, ucapku lirih padanya.
“Selma, rumahmu selalu ada disini, di tepi
awan, di pinggir hujan, di pinggiran ombak yang selalu sigap menanti
kepulanganmu, pulanglah segera Selma” bisikku padanya.
Gayutan jemarinya yang kian hilang dari
lapisan kulitku, kukunya nan indah kini beringsut tak dapat kugapai lagi, kini aku
harus mengantarkan Selma pada kepergiannya.
Burung gagak seakan mengamini perpisahanku
dan Selma senja itu, sungguh aku tak ingin membelokkan tubuhku lagi untuk
sekadar melihat kepergiannya yang beringsut – ingsut lenyap pada sebuah titik
di ufuk barat. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus
melepaskannya.
Ku temukan telaga damai dalam matamu yang teduh itu
Ku titipkan sejuta rasa yang bergemuruh di dada
Di matamu ku temukan beribu bait puisi yang tak pernah usai ku baca
Ku lukis sebentuk ketulusan dalam setiap guratan senyum mu
Ku ukir sedetik demi detik suka duka saat bersama mu,berharap waktu tak kan menghapusnya
Lalu ku pinjam malam tuk hadir dalam ruang mimpi mu,berharap kau tak kan berlalu,hilang dan lenyap begitu saja meninggalkan ku dengan berjuta rasa yang menyesakan dada, “Selma, Kau benar – benar telah pergi dariku”.
Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpanya, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Saat malam, ia menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaranya yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin perasaanku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kulalui bersamanya hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat itu. Selma yang anggun,
Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjanya, tawa renyahnya, cerita lugunya, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenanya. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar ia tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita.
Ku titipkan sejuta rasa yang bergemuruh di dada
Di matamu ku temukan beribu bait puisi yang tak pernah usai ku baca
Ku lukis sebentuk ketulusan dalam setiap guratan senyum mu
Ku ukir sedetik demi detik suka duka saat bersama mu,berharap waktu tak kan menghapusnya
Lalu ku pinjam malam tuk hadir dalam ruang mimpi mu,berharap kau tak kan berlalu,hilang dan lenyap begitu saja meninggalkan ku dengan berjuta rasa yang menyesakan dada, “Selma, Kau benar – benar telah pergi dariku”.
Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpanya, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Saat malam, ia menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaranya yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin perasaanku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kulalui bersamanya hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat itu. Selma yang anggun,
Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjanya, tawa renyahnya, cerita lugunya, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenanya. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar ia tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita.
Setelah ini akan ada pertemuan yang lebih
menggetarkan hatimu dan hatiku, akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu
dan hidupku, dia akan menjadi alasan terbesar saat doa terucap lalu kau dan aku
menyisipkan namanya. Selamat menemukan jalanmu Selma, gumamku dalam hati
bersamaan dengan desah angin yang menghempas jiwaku.
“Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan”.
“Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan”.
Agra, 28 Desember 1984
Pernikahan Selma dengan Alan Smith sayup –
sayup terdengar hinggap pada telingaku.
Sepucuk surat berpita merah dengan lukisan
taman dipenuhi air nan jernih dan burung angsa saling beradu pandang mencuatku
untuk menyimpannya pada lembaran kertas bekas yang menunggu tukang sampah untuk
memungutnya.
Namun, demi kebahagiaan Selma, kutawarkan
diriku untuk menafsirkan barisan kata pada sepucuk surat itu.
Manhattan, 15 Januari 1985
“Selma, kau
sungguh cantik, kau tak hanya cantik, namun elegan dan berkharisma, lelaki itu
sungguh beruntung memilikimu” gumamku melihat wanita yang tak akan bisa kuhapus
dalam saraf neouronku. Tapi kali itu kucoba membiarkan mataku berpuasa
menikmati pemandangan sejarah hidupku, “Selma telah bahagia dengannya”, desahku
dalam hati. Akan kurekam senyumnya sampai detil terkecil semampuku menopangnya.
Senyum dan
kumpulan air mata Selma menjadi saksi kebekuan jiwaku padanya. Kulihat ia
menyepa air matanya hingga sudut matanya yang mungil, “Ah, itu pasti air mata
kebahagiaan Selma dengan Alan”.
Semoga
kebahagiaan selalu terpatri padamu, Selma.
Varansi, 20
Nopember 1990
Karena rumah
tangga yang bergejolak, Selma dan Alan memutuskan untuk pindah di kota
kelahiran Selma, yang juga kota dimana aku tinggal hingga saat ini, Varansi.
Varansi yang
merupakan kota suci di India menjadi saksi sejarah pertemuan ku dan Selma saat
itu. Meski aku dan Selma hidup di kota ini sejak kanak-kanak, namun romansa dan
bangunan Kota Varansi tetap tak pernah berubah dan tetap melegenda.
Di pinggiran
Sungai Gangga, Selma dan aku sering bertemu, memadu kasih berteman gemericik
sungai nan suci. Terkadang ikan – ikan mencuri perhatiannya pada kami. Jika
senja tiba, kami segera mengakhiri hari dan merajut mimpi – mimpi kami di malam
hari.
Di pinggiran
Sungai Gangga sore itu, Selma menawarkan dirinya untuk menemuiku tanpa
diketahui Alan.
Kedatangan
Selma dengan berlapis kain sari warna merah muda menyoal lamunanku pada punduk
– punduk rindu yang telah lama menguap. Pada khayalanku tentang gagahnya Elang
di tiap noktah. Elang, kau telah melemparkanku hingga aku terduduk di tepi
sungai ini. Lantas kau menyibak tubuhku, membawaku menelusuri savanna, mencari
oase untuk kita minum bersama. Dulu kau yang menyelamatkanku, membawa sebagian
tubuhku yang sepertiga tercerabut. Lihat.. helai daunku sudah tak ada lagi.
Kuingat beberapa terjatuh saat kita terbang menjelajahi Bermuda dan tersangkut
di arus waktu. Gerbang kekinian dan masa lampau. “Ah, Selma, akhirnya
penantianku berujung pada kedatanganmu”.
Malaikat penjaga yang dilengkapi pedang berkilauan terhunus
di tangan kanan seakan berbisik padaku, "Kemari Selma, sebelum terdengar
suara – suara penyaksian orang pada kita".
Sungguh
ironis, kehidupan rumah tangga Selma yang tak harmonis dan berujung tragis.
Karena Selma tidak dapat mengaruniai seorang anak, Alan lebih memilih untuk
bersama pelacur desa yang dapat memuaskannya. Tepian Sungai Gangga menjadi
saksi bisu isak tangis Selma yang memecah kesunyian. Selma yang menangis di
pundakku, membuyarkanku akan memori di tujuh tahun silam.
Selma selalu
pergi ke gereja, dan selalu meminta untuk dikaruniai seorang putra. Di tiap
sudut gereja, dibawah rindang pepohonan, ku membidik Selma dari kekejaman Alan
yang terbanjiri emosi. Sungguh, aku layaknya patung yang membisu, hening dalam
kebekuan.
Varansi, 23
September 1992 pukul 03.50
Sang surya
menyibak barisan kain penutup jendela menyeruai singgasana Selma dan Alan. Burung
– burung bersiul mengkode anak – anak manusia untuk menyapa surya. Hembusan
angin Varansi pagi itu begitu dingin, mengkuliti dan menikam tubuhku. Isak
tangis kebahagiaan sayup-sayup terdengar dari sekotak kamar tempat Selma
berbaring melawan tapal batas hidup atau mati. Tergurat senyum bahagia dari
wajah Selma. Seorang putra telah lahir di dunia pukul empat subuh tadi. Dokter
dan perawat segera mengabarkan berita bahagia itu pada kumpulan manusia yang
hadir, termasuk Alan, sang suami.
“Selamat Pak
Alan, anda telah sah menjadi seorang ayah, sekali lagi selamat” ucap dokter
yang sudah beruban itu.
Semakin sang
surya mengarai naik perlahan, semakin banyak pula orang datang berduyun – duyun
ingin menyaksikan kebahagian di keluarga kecil Alan dan Selma. Kedatangan
putranya di dunia menjadi hadiah akan penantiannya selama ini, menjadi kado
Tuhan atas lantunan doa – doa yang keluar dari bibir Selma.
Gemericik
air jamuan tamu yang membuih, suara – suara anak manusia yang kian mengencang
tetiba menjadi hening seketika mendengar kencangnya teriakan Selma di dalam
kamar.
Dokter
mengatakan bahwa putra Selma sudah meninggal satu jam setelah lahir. Sang
perawat yang menjumputnya saat mencuci darah yang masih bersimbah pada tubuh
putranya.
“Nona,
berikan putraku, aku ingin menyusuinya, aku ingin mendekapnya, ia kedinginan”
pinta Selma pada sang perawat.
“Putra Anda
telah meninggal, Bu. Tabahkanlah jiwamu” Kata sang Dokter.
Sang Dokter
menjemput Alan di teras dan mengatakan padanya, bahwa putranya telah meninggal.
Suasana hening bak tertikam pisau kebekuan. Suasana suka cita menjadi duka
seketika. Sungguh, putra Selma adalah anak yang sedang mampir di dunia dalam
satu jam.
Di dalam
kamar tempat Selma beradu hidup dan mati, sang perawat terus menemani Selma.
Selma yang tak ingin melepaskan putranya dari dekapannya mengharu biru suasana
kala subuh itu.
Namun,
takdir ternyata membuat Selma tersenyum mendekap sang putranya untuk selamanya.
Tepat pukul lima subuh, pada tempat tidur pesakitan Selma tertidur bersama sang
putra untuk selamanya. “Ia meninggal..” gumam beberapa orang yang menghujani
kamarnya. Terdekap kain kafan yang menyelimuti Selma bersama putranya.
Tak terlihat
tangis pecah dari bibir dan mata Alan yang mendalam.
Orang –
orang saling berbisik, “mungkin, inilah ketetapan Tuhan, menyelamatkan Selma
dan bayinya dalam singgasanaNya dari kekejaman Alan”.
Orang –
orang saling beradu pandang, melihat peristiwa yang begitu memilukan. Selma
dikubur diatas makam ayahnya, tertumpuk diatasnya seonggok bayi yang terdekap
hangat diatas dada Selma.
Nyanyian sang Pendeta kian nengiris menyayat hati, mengiringi kepergian
Selma dan putranya untuk berbaring di tempat terakhir.
Di sudut pemakaman, seratus meter tepat dari tempat Selma tertidur lelap,
aku menyeroak, lemah tak berdaya. Sesaat setelah semua lenyap, aku menghampiri
makam Selma. Ku rebahkan tubuhku pada gundukan tanah dan terkulai, lemah tak
kuasai diri. Hatiku terkoyak, robek menoreh seribu duka.
Selmaku telah tiada. Semoga kau bahagia disana.
you are still being the reason who I worrying about.
I can't expect someday time will beat and flies as it want, and separate us.
I can't imagine yet. I do love you, for the last, for the most.
Don't ask me the main reason, I just want you here.
I'm sorry, I don't have a same frequency with you, I'm too hard and too difficult to make you happy then.
I'm... just like a rock in the beach that hard to move and just accept wave calmly and strongly.
Try to be strong with you and developing my stronger is the one that I want everyday.
Look your smile is my kind. But I don't want to give my fake smile to you.
![]() |
| I just can share every feels to the blue sky and the slowly wave ~ |





