Diberdayakan oleh Blogger.

Colours of Life

some though of mine, myself, and my life ~


Tepat hari ini, Sabtu, 02 Mei 2020 kita semua memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pasti kita tak kan lupa akan semboyan dan figur yang melekat penuh tentang pendidikan. Yap, ialah beliau Ki Hajar Dewantara dengan semboyannya "ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" . 

Jika kita melihat dari kacamata pendidikan, sudahkah pendidikan di Indonesia merata ? sudahkah seluruh warga negaranya dapat mengenyam pendidikan yang termaktub dalam UUD 1945 Pasal 31 ?

Kemudian aku teringat pada beberapa kali aku mengikuti kegiatan bertajuk pendidikan yang mungkin tidak asing lagi di dunia pendidikan yaitu "Kelas Inspirasi". Pertama kali aku mengikuti Kelas Inspirasi yaitu saat tahun 2017 di Tegal, penempatan di Desa Harjawinangun dan aku menjadi relawan fotografer. Bahkan saat itu aku ditunjuk dimintai tolong karena kekurangan fotografer. Disitulah pertama kali aku mengenal Kelas Insprasi. Masih belum terlalu tersentuh saat itu, karena aku teramat fokus pada tiap bidikan kamera yang menjadi hobbyku dan ku nyaman bermain dengan lensa untuk dapat menghasilkan gambar yang dapat menyampaikan cerita didalamnya. Ku mengenal beberapa relawan lain yang menjadi relawan pengajar yang berasal dari berbagai macam daerah sesuai dengan profesinya masing - masing dan mengenalkan cita - cita pada siswa - siswi sekolah dasar dimana kami ditempatkan. Kegiatan berlangsung hanya satu hari dan dalam satu hari itu proses belajar mengajar "diambil alih" oleh kami, lalu guru-guru pun ikut serta memantau anak didiknya. Uniknya, mungkin dalam proses KBM harian siswa - siswi belajar seperti biasa dan dikenalkan cita - cita tanpa ada "prototype" atau pelaku yang berprofesi langsung. Nah.. disini, dengan berbagai macam pengajar yang sudah berprofesi mengenalkan profesinya kepada siswa - siswi. Kebanyakan target dari kegiatan Kelas Inspirasi ini adalah sekolah - sekolah (SD) yang masih terpencil, jauh dari sentuhan modernitas atau pun bahkan bisa jadi di kota-kota namun memang masih dibutuhkan sentuhan dan pemahaman akan "what we called it dreams".


dokumentasi pribadi : salah satu siswa di SD Harjawinangun 01


Pada tahun 2018 aku diajak kembali untuk mengikuti Kelas Inspirasi Tegal, dan saat itu aku mencoba ikut seleksinya dan ambil peran sebagai relawan pengajar penempatan di area Bumijawa. Aku bersama para relawan lain ditempatkan di SD Sigedong 01. Mendengar kata Bumijawa saja sebetulnya cukup membuatku tertarik karena didukung dengan kondisi alam yang bagus. Saat itu aku mengenalkan tentang dunia pertanian dan lingkungan. Awalnya aku ragu, apakah anak - anak SD tersebut akan tertarik atau acuh ? Ternyata mereka tertarik dan ketika jadwal Back to School di dua bulan setelahnya, mereka masih mengingat para relawan dan saat aku ajak mereka untuk menanam (kebetulan tema yang diambil saat Back to School yaitu "menanam pohon bareng anak kaki gunung slamet" sehingga aku mengisi materi dan membawa beberapa jenis bibit tanaman untuk dibagikan dan ditanam bersama). Terlepas dari kepentingan apapun, aku sangat terharu bahwa guru-guru melihat kegembiraan para siswa saat dikenalkan tentang mimpi, cita-cita, dan bahkan point plusnya bagi aku pribadi, bisa dekat dan mengenal para generasi penerus bangsa ini, indeed. Terlebih, mereka hidup di lingkungan yang tiap mereka membuka mata di pagi hari, mereka bertatap langsung dengan anugerah Tuhan yang tiada bandingnya, kesejukan dan hamparan pepohonan yang menjulang membentuk gugusan bukit - bukit dan sesekali Gunung Slamet menampakkan kegagahannya. 


seorang siswa yang sedang menempelkan cita - citanya di pohon cita-cita.

Di tahun 2019 pun aku ikut seleksi KI kembali di tiga daerah yaitu Yogyakarta, Purwokerto dan Tegal. Namun saat di Yogyakarta kebetulan jadwal bersamaan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sehingga aku berhalangan hadir. Saat di Tegal pun aku berhalangan hadir. Sehingga hanya di Purwokerto yang bisa kuhadiri, itupun selama masa kuliah aku belum pernah mendarat di area Banyumas tepatnya di Desa Binangun. Aku ditempatkan di SD Binangun 03, dan wow ! it was awesome ! aku sangat merekomendasikan area ini menjadi salah satu rujukan untuk KKN Unsoed, atau mungkin sudah pernah (?). Karena banyak aspek kehidupan lainnya yang (masih) perlu ditingkatkan selain pendidikan.




Btw, anak - anak di Binangun pun sepertinya masih jauh dari sentuhan teknologi dan modernitas. Terlepas dari sudut pandang pribadi, sebagai tenaga pendidik, guru - guru di Binangun pun bercerita tentang kehidupan anak - anak disana dan betapa pendidikan disana menjadi pencerah. Terlihat dari gurat bahagia anak - anak pun ketika dikenalkan tentang mimpi dan cita - cita, menjadi jawaban atas rasa penasaranku. Bagaimana mungkin, kita bisa berkata bahwa pendidikan di negeri ini telah merata ? sementara banyak titik air mata dari para pendidik yang menghujani perasaan dan keibaanku setiap cerita demi cerita dan sayup - sayup terdengar rintihan akan kesejahteraan pendidik sementara mereka adalah pembawa lentera ? Melihat keluguan anak - anak disana membuat aku semakin tertampar bahwa anak - anak adalah generasi emas, mereka adalah aset bangsa yang perlu kita dorong, perlu kita jaga untuk menjadi garda terdepan dalam menghadapi perputaran zaman. 

Ingatanku kembali berputar pada saat aku berada di Pulau Sailus Kecil, disana hanya terdapat satu sekolah dasar, yang kondisinya pun cukup memprihatinkan baik dari sarpras maupun kurangnya tenaga pendidik. Jika ingin melanjutkan ke jenjang lebih tinggi maka harus berlayar ke pulau sebelah atau tidak sedikit pula yang berlayar ke Lombok. Ku teringat pada salah satu guru disana (bukan asli Sailus) yang pada akhirnya memutuskan untuk menetap dan mengabdi di Sailus. Hati siapa yang tidak bergetar membaca sebuah pengorbanan demi memprioritaskan pendidikan ? Betapa pendidikan hingga saat ini masih menjadi problema yang belum terpecahkan ? 
Sila bisa dilihat kondisi pendidikan di Indonesia Timur tepatnya di Pulau Sailus di video youtube pada blog ku di ENJ 2017 NTB. 


berfoto bersama anak - anak Pulau Sailus, sesaat sebelum berpisah.



Bagiku, pendidikan bagaikan oase di tengah gurun. Ia seperti tegukan air yang senantiasa menyejukkan keringnya dahaga. 
semoga kesejahteraan senantiasa memeluk para pembawa lentera, sang pendidik. Terimakasih kuucapkan kepada para guru di seluruh penjuru negeri ini. Semoga anak - anak Indonesia ini menjadi para generasi penerus bangsa yang tumbuh menjadi tonggak dan pembawa estafet yang patut kita banggakan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional ! Jayalah negeriku !



bersama anak - anak di Bumijawa 
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Gunung Kelud
Gunung Kelud meletus pada tanggal 13 Februari 2014, bertepatan dengan saat aku melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Kota Batu – Jawa Timur selama 1 bulan. Tidak ada tanda – tanda sebelumnya, namun ketika subuh kala itu, aku dibangunkan temanku yang juga satu kost denganku dan mengatakan bahwa Gunung Kelud meletus. Aku berusaha tenang, aku buka handphone ku pun tidak ada sinyal. Karena posisi kami terpencar, beberapa temanku mengambil tempat PKL di Kediri – FYI, tempat PKL ditentukan oleh pilihan sendiri dari mahasiswa/i –, (sebulan sebelumnya aku telah survey ke Balitjestro bersama kakak-kakak angkatanku di himpunan). Aku baru bisa menghubungi temanku di Kediri setelah agak siang karena sedari pagi sinyal/komunikasi terhalang, sehingga saat siang hari aku hubungi mereka, dan ternyata mereka di evakuasi. Orang tua dan keluargaku pun menanyakan kabarku dan begitu khawatir, karena abu vulkanik dari Gunung Kelud cukup luas hingga ke Provinsi Jawa Tengah. Beberapa hari sempat mengalami “kegelapan” sehingga kami khususnya aku yang melakukan penelitian di perkebunan belum dapat melanjutkan researchku. Meski tiap hari selalu diberi pemandangan indah secara gratis, bisa menatap indahnya Semeru dan beberapa gunung lain di sekitarnya dari lantai 2 kost, beberapa kali melihat pelangi di kebun, merasakan dinginnya Kota Batu tiap malam, tiap hari mandi air hangat, berwisata petik tanaman, wisata ke BNS dan Jatim Park, ah seru !!

source : merdeka.com

Btw, aku mengambil topik “penyakit dan cara penanggulangannya pada tanaman anggur”, dan salah satu penyakitnya adalah embun tepung. Embun tepung tersebut berarna putih yang menempel di daun – daun tanaman anggur. Beberapa hari sebelum terjadi letusan, aku membuat beberapa “ramuan” atas hasil konsultasi dengan pembimbingku di kampus dan di Balitjestro. So, you can imagine guys after that? semua tanaman anggur yang ku teliti di kebun seluas itu terkena abu vulkanik, dan aku tidak bisa membedakan mana yang embun tepung dan mana yang abu vulkanik wkwkkw.. But, so far, I say thanks to God, on saving me well until back home and back to university, I’ll remember all the kindness of my family in Batu City, Kediri, Probolinggo, Malang, all Balitjestro’s staff.  SEMOGA SUATU SAAT KITA BISA BERTEMU KEMBALI. SEMUA SANGAT BERKESAN.


Gunung Slamet
Belum ada 1 tahun dari kepulanganku dari Kota Batu, dan masih teringat peristiwa Gunung Kelud meletus, pada bulan Agustus – September 2014 aku melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama teman – teman se universitas yang diacak random (aku punya banyak teman baru hehehe) dan finally aku dapat tempat KKN di Desa Sikapat, desa yang terletak di bawah kaki Gunung Slamet. Hari demi hari dilalui begitu asik karena banyak teman baru yang berbagai macam karakternya, dengan ibu kost yang sangat baik, dengan warga sekitar yang begitu sederhana dalam menjalani hari – harinya untuk bertumpu pada alam. Jadi uniknya, hampir seluruh mayarakat di Desa Sikapat berprofesi sebagai penderes. You know what ? Penderes itu adalah orang yang mengambil nira dari pohon kelapa untuk dijadikan gula merah. Nah !! That’s why we there. Apalagi aku dari pertanian, maka diberikan tugas khusus lah oleh dosen pembimbing KKN, untuk meneliti gula kelapa tersebut, dan menghimbau serta mengedukasi warga untuk tidak menggunakan obat kimia pada nira yang telah diambil. Ada keunikan disini, syarat untuk dapat menikahi anak orang adalah jika laki – laki tersebut sudah bisa memanjat pohon kelapa dan bisa menderes kelapa !, OMG, pantas saja beberapa kali aku discuss dengan para penderes kok masih muda – muda. Hmm.. Tapi yang sudah menjadi adat, biarlah mengalir begitu adanya. Aku fokus pada penelitian gula dari para penderes. Ohya, KKN ku sempat dijeda karena KKN dilaksanakan pada bulan puasa, dijeda lebaran kemudian setelah lebaran lanjut KKN kembali, sehingga setiap hari merasakan buka puasa dan sahur bersama teman – teman KKN dan warga Desa Sikapat. 

source : merdeka.com

Hari demi hari terlewati, aku fokus dengan ikut para penderes berangkat kerja, belajar naik pohon kelapa, wkwk.. dan terus menerus edukasi dari rumah satu ke rumah lainnya untuk mengecek dan memastikan bahwa para penderes sudah berhenti menggunakan bahan kimia dalam campuran nira, dan menggantinya dengan bahan alami. Sebenarnya kami tahu bahwa status Gunung Slamet saat itu sudah di level waspada, dan plang “JALUR EVAKUASI” pun sudah ditancapkan pada sepanjang jalan bahwa menjadi proker dari teman – teman yang KKN dari desa lain yang berfokus pada geologi/kebumian. Selain proker yang fokus pada gula, kami juga fokus pada pembuatan tungku. Saat uji coba tungku, beberapa kali mengalami dentuman dan tungkunya pun bergejolak, namun hal yang ku ingat sampai saat ini adalah ucapan beberapa warga saat kami panik, mereka mengatakan “sing tenang mas mba, ndakpapa, sudah terbiasa begini....banyakin doa, Slamet lagi batuk”. Aku berusaha meresapi dan merasakan ketenangan yang disalurkan oleh masyarakat Desa Sikapat, walaupun kami juga sudah siap jika di evakuasi. Tapi KKN terus lanjut hingga akhirnya kami EXPO di Alun – Alun Banyumas dengan mempromosikan produk kami dan masyarakat Desa Sikapat dengan nama produk “GULA KRISTAL SIKAPAT”, ah begitu mengesankan, hingga akhirnya kami tiba pada hari perpisahan. Finally, I hate the farewell ! Mengapa setiap pertemuan pasti harus ada perpisahan, tapi begitulah hukum alam. I say thanks so much untuk semua kenangan yang tak terlupakan, keakraban, kekeluargaan, dan tetap sama dengan saat di Kota Batu, SEMOGA SUATU SAAT KITA BISA BERTEMU KEMBALI, TEMAN – TEMAN KKN DESA SIKAPAT DAN MASYARAKAT DESA SIKAPAT, LOVE YOU ALL.


 Gunung Agung
Pada tahun 2017, Gunung Agung – Bali mengalami erupsi. Kepulanganku dari Pulau Sailus, aku kembali lagi ke Lombok beberapa hari sebelum pulang ke Jakarta dan Tegal. Malam sebelum pulang sebenarnya masih ragu, lanjut sehari lagi di Lombok, atau langsung pulang. Akupun ragu, ambil rute penerbangan Lombok – Jakarta, atau Lombok – Surabaya, karena kebetulan aku diajak mampir ke Surabaya oleh teman – temanku area Jawa Timur. Padahal Kak Ayu Silvi sudah menunggu di Jakarta, namun memang sebenarnya jadwal kepulangan dari Pulau sempat mengalami perpanjangan karena jadwal kedatangan kapal yang menjemput kami terlambat datang beberapa hari. Saat kami di pulau, tidak ada sinyal, tidak ada listrik, jadi saat terlambat pulang pun kami tidak bisa menghubungi siapapun diluar kehidupan kami di Pulau Sailus. Hehe.. I’m sorry kak, karena telat pulang L  Akhirnya daripada balik Jakarta sendirian, hmmm.. yasudah aku putuskan ambil rute Lombok – Surabaya. Because, temanku, Azizah, juga di Pulau Sailus, berangkat bersamaku namun dia di Pulau Sailus Besar, sedangkan aku di Pulau Sailus Kecil, sementara sebelum berpisah di Pulau waktu itu, Azizah sempat menyampaikan bahwa sepertinya dia bakal balik lebih dulu karena dia sedang studi lanjut S2 dan dia harus berangkat ke Bogor untuk bimbingan/kuliah. Yah bener deh, saat aku masih di Kapal perjalanan pulang dari Pulau ke Lombok, dan sempat dapat sinyal walau naik turun, masuklah SMS dari Azizah kalau dia sudah safe di Jakarta, hwaaa kangen ! Finally ku bisa menyapa duniaaaaa setelah sekian lama tenggelam di pulau tanpa kabar apapun. 

source: suarapubliknews.net

Yhaaa, back to the topic, hingga akhirnya sampai di Bandara LOP dan you know what happen ? ya delay because of Mountain Agung was eruption. Aku langsung keinget film ILY From 3000 Mdpl, mana momennya sama kan di Lombok. But, finally, alhamdulillah Allah masih terus melindungi hingga kami sampai di Bandara Juanda dengan selamat. Dan sampai detik ini, semua pengalaman dan kisah di Pulau Sailus sangat berkesan, dengan seluruh teman – teman dari berbagai macam provinsi, hidup tinggal satu rumah, cari ikan di pantai, tiap sore lihat senja, bercengkrama dengan kesederhanaan, dan keluarga di Pulau Sailus. Ya Allah, I miss them all so much ! PENGIN KETEMU LAGI !

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bismillah, ijinkan saya berucap syukur kepada Tuhan. Hari ini, Sabtu, 17 Agustus 2013 Negara Republik Indonesia memasuki usia yang ke-68 tahun. 68 tahun, bukanlah angka yang sedikit. 68 tahun adalah angka yang sangat matang. Ibarat manusia, angka berkepala 6 tersebut pastilah sudah benar – benar matang.  Matang dapat pula diartikan dewasa. Dewasa berarti dapat memahami dan mempertanggungjawabkan segala tindakan, Tapi, apakah bangsa ini matang pula dalam menghadapi segala permasalahan yang terjadi ? Apakah bangsa ini telah matang dalam menyikapi segala konflik, menyingkap segala beda, dan berperilaku dewasa dalam menghadapi tantangan di era globalisasi ini ? Mari kita tanya pada diri kita, sudahkah negeri ini merdeka ? sudahkah bangsa kita memaknai kemerdekaan yang sejati ? kemerdekaan yang seutuhnya murni. Memang benar, apa yang dikatakan oleh Bung Karno yang kurang lebih seperti berikut, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Merdeka berarti bagaimana kita memerdekakan diri dari segala beban yang kita buat sendiri. Kemerdekaan, semoga tak sekadar sepatah kata yang melintas di setiap jiwa bangsa. Di era globalisasi yang penuh dengan tantangan ini, menjadi bangsa yang merdeka tak sekadar berucap semata, namun kita buktikan bahwa kita mampu memerdekakan bangsa ini dari segala aspek yang masih menjadi konflik.
Berbicara tentang kemerdekaan, termasuk pula memerdekakan jiwa – jiwa yang terjerat. Termasuk pula memerdekakan hati yang terpenjara kegelapan. Tatkala semua saling menyingsingkan lengan, memahami solidaritas, toleransi umat, dan bersama mewujudkan visi Indonesia yang sesuai dengan konstitusi. Masa depan terbentang luas, bagi jiwa bangsa yang tak mengenal lelah dalam memperjuangankan nasib bangsa.
Bahwa faktanya makna kemerdekaan sejati belum tersentuh oleh seluruh elemen bangsa. Karena, masih banyak generasi yang hanya menginginkan hal – hal yang instan, masih banyak generasi yang tidak memperhatikan para pejuang yang kini telah terbuang, masih banyak pemimpin negeri yang belum dapat memimpin dirinya sendiri,  dan masih banyak lagi yang tak dapat saya sebut satu per satu.
Maka, melalui opini saya, bukan bermaksud untuk saling menyalahkan, namun marilah kita bersama membuka mata, dan semoga setelah ini akan ada bibit – bibit yang dapat merdeka, yang dapat meneruskan perjuangan para pahlawan dan pejuang yang belum terealisasi, bukan merdeka untuk satu pihak, namun merdeka atas nama Indonesia. Termasuk generasi penerus bangsa melalui cara, upaya, karakter, dan konsentrasi studi masing – masing. Hingga, pada akhirnya cita – cita leluhur bangsa terwujud, yang pada akhirnya menjadi cita – cita bangsa Indonesia sepenuhnya. Sadarkah kita ? Negeri ini banyak dilirik karena potensi yang besar, baik Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia. Sadarkah kita ? telah banyak Negara bahkan lembaga Internasional yang mengakui keberagaman budaya dan sosial masyarakat yang sangat majemuk. Sadarkah kita ? banyak Negara yang cemburu akan kekayaan kita, akan negeri yang sangat  tersohor memiliki lebih dari 17.000 pulau. Namun, semua itu akan sirna, percuma dan sia – sia tatkala tidak diakui oleh bangsa sendiri, tatkala tidak dipelihara dan dirawat oleh bangsa sendiri, tatkala tidak dimanfaatkan untuk anak cucunya kelak, tatkala hanya sifat materialis yang meracuni otak bangsa ini, tatkala hanya mementingkan keegoisan semata.
Jujur, saya selalu merinding dan selalu bangga ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh para pahlawan bangsa yang berjuang demi Tanah Air, ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Negara lain. Apakah kau merasakan hal yang sama, hai kawan  ? Maka, melalui tulisan ini semoga kita sebagai bangsa Indonesia bangkit, bangkit dari segala keterpurukan dan jeratan. Tetaplah junjung tinggi nama Indonesia, dimanapun, dan kapanpun kita berada.

Bersama ini, saya juga mengajak kawan – kawan negeri, walau tak dapat membantu banyak, walau tak bertemu muka, namun Tuhan selalu mendengar doa. Kita doakan saudara – saudara kita Ikhwan di Mesir, Mujahidin Suriah, Mujahidin Palestina, semoga bersabar hingga Allah menangkan dan memerdekakan. Karena, Mesir pun merupakan Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Negara Indonesia. Sekian, opini saya tentang negeriku tercinta, semoga dapat menjadi semangat bangsa ! 

Berkibarlah Merah Putihku, Tetaplah engkau di dadaku !

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Air.. Air.. Air.. dimanakah air ?  aku  butuh air..
Bisa membayangkan betapa susahnya mengakses sumber air ? padahal kota ini dikelilingi dengan gunung dan  deretan pegunungan. Ya.. Banyumas ! khususnya Purwokerto.. di sebelah utara ada  gunung slamet yang setiap hari begitu jelas sekali terlihat, berasa berada di jarak 5 km dari gunung slamet. Kalau menengok di sebelah timur, barat dan selatan, deretan pengunungan dan bukit berjejer rapi. Sungguh indah !
Namun, sayang sekali aku harus merasakan susahnya mengakses air, kebutuhan terpenting ! perjuangan mendapatkan air sampai harus lari kesana kemari. Dan ini bukan hanya di tempatku , tentunya. Di tempat teman – temanku, di sebagian besar kos mereka pun mengalami hal yang sama. Di masjid – masjid pun menempelkan note *HEMAT AIR* . Yah, aku tahu, bahwa ini adalah musim kemarau. Namun, satu hal yang perlu diketahui.. ini pun karena ulah tangan manusia. Ladang sawah sudah mulai menipis, land reform dimana – mana. Yah, beginilah fenomena yang terjadi.
Aku pernah membaca artikel, tentang keadaan suatu negeri saat akses air sudah tak dapat dijangkau, saat mandi dan mencuci harus menggunakan air yang sama. Saat orang - orang berebut air entah di desa maupun di kota, saat mahalnya air bersih dalam satu gelas. Dan masih banyak lagi cerita – cerita masa depan disana. Mungkin, bila harus merangkak mencari air, akan mereka lakukan (di masa depan) atau bahkan sekarang ?
Ya, bagaimana dengan kondisi negeri itu saat ini? yang sedang begelimpahan air janganlah sombong dan jangan sok, gunakan seperlunya, tetap bersyukur. Yang sedang krisis air, bersabarlah dan tetap semangat !  dan kalau kau cerdas, pasti akan mencari solusi yang tepat akan krisis ini.  Bukankah ini tugas kita guys ? 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Subhanallah, akhirnya hari kemenangan telah tiba. Aku yakin, inilah saat yang paling ditunggu oleh umat sejagat raya. Tak terkecuali di negaraku, Indonesia. Begitu meriah sekali, selain karena hari raya, dua hari yang lalu bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI yang ke - 67. Sontak , suasana huru - hara dalam negeri ini begitu meriah. Bahkan, temanku dari Bangladesh pun mengatakan " I love Indonesia, it's amazing !" ya, inilah negeriku, dengan berbagai macam pluralisme, tapi tetap menjunjung tinggi toleransi. Dua hari yang lalu, ketika lagu Indonesia Raya diperdengarkan di telingaku, aku merinding ! entah kenapa. Getaran itu begitu dahsyat. Ketika sang Saka berkelebat dipermainkan angin , sungguh gagah nian warna Merah dan Putih itu menari - nari di angkasa. Saat - saat seperti itu, aku ingin seisi dunia tahu bahwa inilah Indonesia. Negeriku yang sangat kucintai , negeri yang orang bilang "surga dunia". Ingin rasanya ku teriakkan, "Aku cinta Indonesia" ! 
Suasana kemerdekaan tahun ini mungkin tak semeriah tahun - tahun sebelumnya, entah karena ini bulan puasa, atau karena sang waktu yang memang sudah berbeda. Rasa gemetar itu mengiringiku pula saat hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1433 H, lantunan takbir yang begitu melodious dan harmony dengan tabuh bedug dan pastinya, dengan moment yang alhamdulillah masih bisa kurasakan, bertemu dan berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Tangis dan deraian yang keluar mungkin itulah yang tepat untuk mewakili perasaan yang terselubung dosa, "maybe, there are nothing words to describe at all, just tears to represent the apologize one".

Ya Allah Yang Maha Pencipta, semoga darisini kami dapat mengambil hikmah akan segala kesalahan yang kami lakukan..

 Ya Allah Yang Maha Pengasih, semoga negeriku ;Indonesia..menjadi negeri yang makmur, sejahtera dan tercukupi. Semoga 'tinta hitam negeri' akan berubah menjadi 'putih' yang pada akhirnya membawa  'kemenangan' bagi setiap bangsanya. amin

 Subhanallah, dahsyatnya Agustus ! Kemerdekaan = Kemenangan !

 Aku ingin merasakannya lagi di tahun depan dan tahun - tahun sesudahnya. Semoga Allah masih memberi kesempatan, dan Dia selalu melindungi kita. Amin..
Aku bersyukur sangat lama..




SALAM MERAH PUTIH !!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Fildzah Kharisma N.H

Fildzah Kharisma N.H

About me

I’m a girl who loves nature, green, environmentalist, and social humanitarian enthusiasm.

Halaman

  • Home
  • Travel
  • Contact

Visitors

Followers

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Label

  • cerpen
  • English
  • Environment
  • Friends
  • Goresan hati
  • Indonesia
  • Life Traveler
  • Masa sekolah
  • Opini
  • Perjuangan
  • Puisi
  • Religi

Blog Archive

  • Mei 2020 (2)
  • April 2020 (3)
  • November 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • November 2017 (3)
  • Oktober 2017 (2)
  • Januari 2017 (2)
  • Maret 2016 (2)
  • Maret 2015 (1)
  • Januari 2015 (1)
  • Februari 2014 (1)
  • Januari 2014 (1)
  • Desember 2013 (3)
  • Agustus 2013 (5)
  • Juli 2013 (3)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (7)
  • Januari 2013 (2)
  • Desember 2012 (6)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • September 2012 (1)
  • Agustus 2012 (10)
  • Juli 2012 (2)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • Maret 2012 (1)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (5)
  • Agustus 2011 (2)
  • Juli 2011 (4)
  • Juni 2011 (3)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (2)
  • Januari 2011 (1)
  • Desember 2010 (1)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (3)
  • Juni 2010 (7)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates