Diberdayakan oleh Blogger.

Colours of Life

some though of mine, myself, and my life ~




Sudah menjadi sebuah hal yang kita ketahui bersama bahwa manusia letaknya salah dan lupa. Hingga dari salah tersebut, timbullah maaf, yang dimaksudkan permintaan sebuah pengampunan agar tidak mengulangi sebuah salah maupun menyadari atas kesalahan. 

Permintaan maaf sudah semestinya menjadi sebuah bentuk kemurnian dari dasar hati kita. Yang dari padanya kita menemukan ketenangan atas ucapan "maaf" yang terlontar pada orang-orang atas diri kita yang telah menyakiti mereka. 
Lalu bagaimana dengan memaafkan ?
Sisi A : minta maaf
Sisi B : memaafkan
ada di sisi manakah kita ?

Seharusnya memang begitu adanya bahwa memaafkan merupakan perbuatan yang mulia. Dan ternyata, tidak semuanya mudah melakukan peran yang baik pada bagian ini. 

Bagaimana dengan hati yang terlukai teramat pedih lantas kita hanya harus bisa memaafkan, tanpa mendengar ucapan maaf dari orang-orang yang telah melukai hati kita ? Bahkan tanpa melihat perubahan sikap dari orang-orang yang melukai kita. 

Sejatinya kebesaran hati kita itu, letaknya dimana ? Perlukah menunggu orang-orang yang menyakiti kita untuk meminta maaf ? atau kita hanya perlu memaafkan walau tanpa diminta ? Ada yang hingga berurai air mata, ada pula yang melalui lengkungan di bibirnya, senyuman yang mendamaikan, ada yang tak jarang pula hingga bersujud memohon. 

Mungkin disinilah, sekeping hati kita diuji. Ada yang butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka. Ada pula yang cukup sejenak. Namun, semua berujung pada satu : IKHLAS.

Semoga maaf tidaklah menjadi 4 huruf berjejer yang hanya menjadi formalitas. 
Semoga dengan segala kerendahan hati, segenap ketulusan hati, kita ridho untuk memaafkan segala rasa sakit, segala luka yang begitu lebam membiru, segala pilu yang tak kunjung reda. 

Mungkin hanya dengan "memaafkan" menggunakan akal dan hati terdalam kita, menjadi sebuah ketenangan dalam diri. 

Lalu pertanyaan kedua akan muncul, bahwa Tuhan saja Maha Pengampun dan Pemaaf. Lalu, manusia ? Semoga kita bisa memastikan diri kita bahwa yang kita sembah adalah Tuhan, bukan ego.


Selamat Idul Fitri 1441 H, Damailah segalanya ;)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




source : knowyourteam.com 




Akhir – akhir ini aku seringkali merasakan keresahan atas banyaknya perdebatan yang terjadi di sekitar kita. Mulai dari permasalahan yang simpel hingga yang kompleks. Keresehanku dimulai dari beberapa kali bahkan seringkali aku mendapat chat dari orang – orang yang kurasa menganggap dirinya ingin “curhat” dan menjadikannya “korban” terdampak dari beberapa kebijakan ataupun case yang sedang hangat – hangatnya terjadi di sekitar kita. It’s oke for me to be your good listener, meskipun sampai detik ini aku tidak pernah bisa menilai apakah saran/advice dari sudut pandangku itu bagi mereka baik atau tidak, bermanfaat atau tidak, aku tidak memperdulikan hal itu. Diterima syukur, tidak diterima pun tidak apa – apa (karena dari Dialah kita berilmu dan kepadaNyalah kita kembali).

But my questions, kenapa tiap dari mereka membutuhkan pendapatku dan saat ku sampaikan dari sudut logis yang mungkin aku memahami bagian tersebut, dan – saat apa yang ku sampaikan tidak bisa diterima / merasa tidak cocok dengan jalan pikiran mereka – kenapa menjadi personal attack? kenapa menjadi menyerangku? bukankah tadi menjadikanku teman diskusi?

Kita memang tidak bisa memungkiri bahwa hidup kita tidak akan pernah lepas dari masalah. Dan dari masalah tersebut, tidak sedikit pula yang “tidak menikmati proses” selama bermasalah. Oke kita ibaratkan seperti rasa sakit. Banyak orang menanyakan “kamu sakit apa?” “dari kapan kamu sakit?” dan “apakah sudah sembuh?” tapi mungkin kita lupa menanyakan proses dari sakit menuju sembuh, lupa menemani tiap – tiap rasa sabar dalam menuju sembuh. Bukankah keduanya juga nikmat yang perlu kita syukuri ? So, I hope you get the point what I mean how to face in every problems and trials.

Back to my topic about debate. Selama menjadi seorang debaters, baik selama masa – masa training dan kompetisi – kompetisi yang kulalui, aku selalu berusaha mengambil value penting, baik dari para debaters lain, dari para coach, adjudicator, maupun dari kesalahan yang sering ku buat, ataupun dari keberhasilan atas buah dari kesabaran dalam berlatih. Dalam masa kompetisi, rival is rival but after the competitions, we are friends. Point penting yang ku ambil dalam tiap debate competition adalah kami diwajibkan untuk brain storming untuk mencari solusi mana yang terbaik atas masalah dari tema / motion? speaker dan tim mana yang paling rapi, paling logic, paling memberi banyak dampak baik, paling bisa ngena dalam menjelaskan dan menyusun background of problems hingga solusi terpecahkan ? Selebihnya, bonusnya adalah menjadi juara (ya karena lagi kompetisi -_-)

Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan selama menjadi debaters. Menjalani masa – masa training yang cukup melelahkan ternyata membuah hasil pada kompetisi dan yang terpenting, aku mendapatkan value yang mungkin secara penalaran harus lebih tajam dan detail. Apa yang dibahas dan diperdebatkan sesuai dengan motion, dan tentu saja TIDAK MENYERANG PERSONAL. 
But, why ? ketika aku dihadapkan pada perdebatan di kehidupan sehari – hari di masyarakat, melihat dengan seksama, menghayati bahkan tak jarang pula untuk ikut menyelami, and my conclusion was going to “banyak yang belum bisa menerima perbedaan pendapat dan menyikapi dengan baik, tidak jarang pula yang berujung adu fisik”.

Banyak orang yang tiba- tiba menjadi ahli untuk menyampaikan pendapat dan argumennya ketika case – case terjadi di sekitar kita, banyak yang beradu argument yang tak sedikit pula berujung permusuhan. Singkatnya, yang banyak diadu adalah mulut, bukan otak. Dan yang kutanyakan, mengapa tidak mengambil value dari tiap diskusi atau adu argument ? Mengapa orang lebih suka untuk menonjolkan dirinya terlebih dahulu atas pendapat – pendapatnya, dan tidak mengedepankan point – point yang perlu untuk disampaikan ? Mengapa orang lebih suka membenarkan pendapatnya, dan mengagung – agungkan dirinya ketimbang merendahkan hatinya untuk mendengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu ? dan berani “mengiyakan” jika memang pendapat orang lain jauh lebih baik ?

Banyak orang berdebat tentang kebenaran, masing – masing mengklaim dirinya sebagai yang paling benar. Kita mungkin tahu, bahwa kebenaran terbagi dalam dua jenis, subjektif dan objektif. Kebenaran subjektif melibatkan persepsi pengamatan (all is relative), benar bagi si A belum tentu benar bagi si B. Artinya tidak ada kebenaran yang benar – benar mutlak. Sedangkan objektif lebih melihat fakta tanpa melibatkan persepsi. Dari keduanya, yang pada akhirnya diambil benang merah sebuah konsensus bersama dari hal hal yang kita sebut “ketidakpastian” alias memiliki acuan dan landasan. We can catch this point.  

But, kembali lagi pada tiap – tiap argumen dan perdebatan yang mirisnya berujung debat kusir, please come on guys ! aku juga bukan seorang psikolog yang mungkin bisa memahami isi dari tiap lawan bicara atau mudah mengkuliti dari kata demi kata. Aku hanya mencoba berfikir rasional, susahkah kita untuk menjadi manusia yang memiliki rasa toleransi dan tenggang rasa or even deal with our mind and understand each other.

Yasudah sampai sini saja keresahanku, I hope for the next, kita bisa berdiskusi secara baik dan sopan dan lebih saling menghormati lawan bicara, apapun topiknya, dan bagaimanapun kondisinya.


Ps : semua ceritaku tentang debaters terlepas dari unsur apapun, namun aku hanya bermaksud untuk berterimakasih dan bersyukur pernah ada dan melalui fase menjadi debaters (dari SMA - Kuliah) yang ternyata banyak pelajaran berharga yang kudapatkan dari guru-guru/coach/debaters/adju, dan sangat berguna dalam kehidupan, khususnya dalam berdiskusi dan analisa. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Fild... well you have give them a life to live for, so now give it to your self too. Keep fighting" -Budi-
(thanks a lot Bud, you're really make my tears run from this eyes, I'm proud of them, I'm proud also for our struggle day by day for them. That's, have to remember!)

"Fild, your debaters are diamond, tell them that there's so many big competition that they have to follow"
 -Mba Ghina-
(Thanks mom, they're more than diamond. They're my angel. I love them so much. Thanks for your trust to me)

"Mba Fildz, semangat ya !" -Temen-temen Agrotek-
(Iya makasih semuanya, semangat untuk lebih baik :) )

"Mate, debatersmu keren-keren, margin kita cuma 1. Semangat ke lomba nasional dll ya :* (Amrul, Ka Tami, Ka Fiogi, dkk)
(Thaaaaaanks banget kaka-kakaku, dan mates ku. Hug you all {})

"Ka Fildzaaah, makasih banget kami sayang banget sama kaka, semangat ka laporannya ! ditunggu eskrimnya :* -Nadia-
(Makasih sayang buat semangatnya. I'll do my best for this report result !)

"Maaf ka, gak bisa bawa pialanya, maaf ka kami mengecewakanmu" -Andi-Dita-Hafiz-Odi-Nadia-Zahra-
(Adik-adikku sayang, bukan itu yang kumau, melihat kalian berjuang di depan sana adalah hal terindah yang pernah kulihat, dengan segala perjuangan dan kerja keras kita dari hari-hari kemarin, ingatlah, piala bukan tujuan akhir, ia hanyalah bonus. Tapi perjuanganmu, itu yang lebih berharga dari apapun, tak ternilai harganya. Kalian masih 2013, masih belia. banyak kesempatan di depan sana menanti kalian ! Aku sayang kalian, terimakasih sudah mau mewakili himagrotek. Let's burn for the next !)

Makasih juga buat temen-temen ALICE (Didi, Luqman, Nila dan Mentari) yang sudah bersedia mewakili himagrotek. Dan makasih buat temen-temen JUSI (Roni, Oyon, Asif, Darjanto, dan Wildan). Betapa mahalnya sebuah pengalaman. Tetaplah bersyukur dan nikmatilah prosesnya adik-adikku sayang.
I love you more and more :*

*Semata-mata diposting sebagai penyemangat untukku, semoga bisa transfer semangat juga untukmu :)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Cintailah orang yang mencintaimu, sayangilah orang yang menyayangimu. Jangan pernah coba sedetikpun kau sia – siakan orang tersebut. Karena tak mudah baginya, sungguh tak mudah mencintai orang sepertimu. Dari sekian banyak orang, kaulah yang terpilih untuk dicintainya, disayanginya. Siapapun dan dalam kondisi apapun. Jangan pernah menggunakan waktu kita untuk membenci orang yang membenci kita, karena hidup kita akan sia – sia, kita malah melakukan kesalahan besar. Biarkanlah ia lewat, hadapilah yang sekarang menyayangimu dengan tulus dan sepenuh hati, sayangilah mereka. Dan tetaplah, kau sayang pada orang yang sangat kau sayang, meski sampai detik ini ia belum bisa menyayangimu balik. Tetaplah menjadi pribadi yang anggun, saling kasih mengasihi dan saling sayang menyayangi di dalam naungan Tuhan. Tetaplah bertahan seperti ini, tetaplah menyayangi setulus dan selembut kapas. Tetaplah menyayangi orang yang kau sayang dan yang menyayangimu. Meski pada akhirnya (mungkin) orang yang kau sayang pergi, atau usahamu sia – sia, setidaknya kau tetap bangga pada dirimu. Karena kau telah bertahan untuk orang yang kau sayang sesuai pilihan hatimu. Sungguh memang berat bagi orang biasa, teruslah berjuang dan bertahan, walaupun hingga nanti kau mati di tengah jalan atau perjuanganmu sia – sia, kau masih memiliki kebanggaan akan keyakinan tersebut. Jadi, kau bisa mengambil pelajaran dari tiap – tiap usahamu. Tetaplah berjuang.
(itulah cuplikan dari kata-kata sahabatku (toink) buatku beberapa hari yang lalu)
thanks ink :D


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Then, you show me something-that-we-hate-to-called-it-farewell.

"Aku masih merasakan udara yang sama. Masih berdiam ditempat yang sama. Tapi yang kurasakan tak lagi sama, kesunyiaan ini bernama tanpamu."



Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir. Saat semua terancang dengan hebat dan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan itu harus terjadi untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.



Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyangkal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Saat malam, kamu menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang bisa kita lalui hingga terasa waktu terlalu cepat berlalu saat kita melaluinya bersama.



Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus selalu kita lewati tanpa kita tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogotiku, aku tetap harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia dalam jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan.



Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lugumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan, aku harus membuang dan menghapus itu semua dari memori otakku agar kamu tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku, akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu dan hidupku, dia akan menjadi alasan terbesar saat doa terucap lalu aku dan kamu menyisipkan namanya. Selamat menemukan jalanmu.



Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kau juga mengambil pelajaran dari pertemuan singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu harus kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan. Baik-baik ya.

-D.A.N-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
" BAHAGIA ITU SEDERHANA"



kita tak perlu muluk - muluk agar dipandang tinggi oleh orang. Kita tak perlu menjadi orang lain, menggunakan berbagai topeng. Bahagia itu, ketika kita mencapai puncak dari mimpi kita, namun kita masih memberi kesempatan pada orang lain jika itu yang terbaik baginya. Bahagia itu, tak harus kita yang berada pada posisi tertinggi, atau bahkan jabatan tertinggi. Bahagia itu, ketika kita bisa merelakan apa yang sebenarnya bisa kita lakukan merelakan, mengikhlaskan kepada orang lain yang lebih mampu. Bahagia itu, tidak memaksa. Bahagia itu, ketika bisa melihat orang lain tersenyum, berada pada posisi yang mereka inginkan, berada pada posisi yang mereka mampu lalui, bukan hanya memandang diri saja. Bahagia itu hidup, hidup dan terus hidup dalam balutan rasa ikhlas dan penuh keikhlasan. Bahagia itu, ketika kita tak menyesali semua keputusan dan pilihan, bahkan pilihan ke 1001 sekalipun. Jika memang itu yang terbaik, maka aku ingin menjadi orang yang bahagia dalam kesederhanaan.

Purwokerto, 07-05-13
11.55 PM

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Fildzah Kharisma N.H

Fildzah Kharisma N.H

About me

I’m a girl who loves nature, green, environmentalist, and social humanitarian enthusiasm.

Halaman

  • Home
  • Travel
  • Contact

Visitors

Followers

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

recent posts

Label

  • cerpen
  • English
  • Environment
  • Friends
  • Goresan hati
  • Indonesia
  • Life Traveler
  • Masa sekolah
  • Opini
  • Perjuangan
  • Puisi
  • Religi

Blog Archive

  • Mei 2020 (2)
  • April 2020 (3)
  • November 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • November 2017 (3)
  • Oktober 2017 (2)
  • Januari 2017 (2)
  • Maret 2016 (2)
  • Maret 2015 (1)
  • Januari 2015 (1)
  • Februari 2014 (1)
  • Januari 2014 (1)
  • Desember 2013 (3)
  • Agustus 2013 (5)
  • Juli 2013 (3)
  • Juni 2013 (1)
  • Maret 2013 (3)
  • Februari 2013 (7)
  • Januari 2013 (2)
  • Desember 2012 (6)
  • November 2012 (2)
  • Oktober 2012 (3)
  • September 2012 (1)
  • Agustus 2012 (10)
  • Juli 2012 (2)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • Maret 2012 (1)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (5)
  • Agustus 2011 (2)
  • Juli 2011 (4)
  • Juni 2011 (3)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (2)
  • Januari 2011 (1)
  • Desember 2010 (1)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (3)
  • Juni 2010 (7)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates